HUBUNGAN RIWAYAT ASI EKSLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAWAH LEBAR KOTA BENGKULU
DOI:
https://doi.org/10.51712/mitraraflesia.v15i1.205Abstract
ABSTRAK
Latar Belakang : Stunting menjadi suatu permasalahan dalam kesehatan karena berhubungan dengan risiko terjadinya suboptimal perkembangan otak, sehingga terjadi  keterlambatan pada perkembangan motorik dan terhambatnya pertumbuhan mental. Hal ini menjadi ancaman serius bagi keberadaan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Data Riskesdas tahun 2017 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia mencapai 29,6%, meningkat menjadi 30,8%, di tahun 2018 kemudian menurun menjadi 27,7% di tahun 2019. Angka tersebut masih jauh dari standar WHO yaitu dibawah 20%. Masih tingginya angka stunting diindonesia menjadi perhatian penting bagi pemerintah. Dari beberapa penelitian didapatkan faktor penyebab stunting salah satunya yaitu tidak menerapkan ASI Eksklusif pada Bayi. Maka peneliti termotivasi melakukan penelitian tentang hubungan riwayat ASI Eksklusif terhadap Kejadian Stunting di Puskesmas Sawah Lebar Bengkulu.
Metode : Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Desain penelitian ini dilakukan degan melakukan observasi pada semua variabel, baik variabel independen (riwayat ASI Eksklusif) maupun variabel dependen (stunting) dalam waktu yang bersamaan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 222 orang balita di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu.
Hasil : Penelitian menunjukkan hasil bahwa 46 (63,9%) responden tidak ASI eksklusif dan mengalami stunting. Sedangkan dari 29 (19,6%) responden dengan ASI eksklusif dan mengalami stunting. Dari uji statistik dapat diketahui bahwa p-value = 0,000 atau lebih kecil dari nilai α (0,05).
Simpulan : Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara riwayat ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sawah Lebar Bengkulu. Dilihat dari nilai RP = 3,261 yang dapat diartikan bahwa responden yang tidak ASI eksklusif berpeluang 3,261 kali lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan dengan responden yang ASI eksklusif.
Kata Kunci : Asi Eksklusif, Stunting
Â
ABSTRACT
Background: Stunting is a health problem because it is associated with the risk of suboptimal brain development, resulting in delays in motor development and stunted mental growth. This is a serious threat to the existence of children as the next generation of the nation. Riskesdas data in 2017 shows the prevalence of stunting in Indonesia reached 29.6%, increased to 30.8%, in 2018 and then decreased to 27.7% in 2019. This figure is still far from the WHO standard, which is below 20%. The high rate of stunting in Indonesia is an important concern for the government. From several studies, it was found that the factors causing stunting, one of which was not applying exclusive breastfeeding to infants. So the researchers were motivated to conduct research on the relationship of exclusive breastfeeding history to the incidence of stunting at the Sawah Lebar Health Center Bengkulu. Â
Methods: This type of research is quantitative using an analytical survey method with a cross sectional approach. The design of this study was carried out by observing all variables, both the independent variable (history of exclusive breastfeeding) and the dependent variable (stunting) at the same time. The sample in this study amounted to 222 children under five in the work area of the Sawah Lebar Health Center, Bengkulu City.
Results: The study showed that 46 (63.9%) respondents were not exclusively breastfed and experienced stunting. Meanwhile, out of 29 (19.6%) respondents with exclusive breastfeeding and experiencing stunting. From the statistical test, it can be seen that the p-value = 0.000 or less than the value of (0.05).
Conclusion: It can be concluded that there is a significant relationship between a history of exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in toddlers in the working area of the Sawah Lebar Health Center Bengkulu. Judging from the value of RP = 3.261 which means that respondents who are not exclusively breastfed have a 3,261 times higher chance of experiencing stunting compared to respondents who are exclusively breastfed.
Keywords: Exclusive Breastfeeding, Stunting
Â
Â
References
Alimul Hidayat. (2010). Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Jakarta: Heath Books.
Andriani, M. (2012). Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Angraini, W., & Pratiwi, Bintang Agustina, et al. (2019). The birth weight as a risk factor for stunting in north bengkulu regency, 47–51.
Anisa, P. (2012). No TitleFaktor-faktoer yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 25-60 Bulan di Kelurahan Kalibaru Depok. Uniersitas Indonesia.
Apriluana, G. (2018). Analisis Faktor-Faktor Risiko terhadap Kejadian Stunting pada Balita ( 0-59 Bulan ) di Negara Berkembang dan Asia Tenggara, 247– 256.
Aramico, B., Sudargo, T., & Susilo, J. et al. (2013). Hubungan sosial ekonomi, pola asuh, pola makan dengan stunting pada siswa sekolah dasar di Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Jurnal Gizi Dan Dietetik Indonesia, 1(3), 121–130.
Ariati, L. I. P. (2019). Faktor-Faktor Resiko Penyebab Terjadinya Stunting Pada Balita Usia 23-59 Bulan. Oksitosin : Jurnal Ilmiah Kebidanan, 6(1), 28–37. https://doi.org/10.35316/oksitosin.v6i1.341
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Arini, D., Fatmawati, I., Ernawati, D., Berlian, A., Hang, S., & Surabaya, T. (2020). Hubungan Status Gizi Ibu Selama Hamil dengan Kejadian Stunting pada Bayi Usia 0-12 Bulan di Wilayah Kerja, 4(1).
Arifin D.Z, Irdasari, S. Y., & Handayana. (2012). Analisis Sebaran dan Faktor Risiko Stunting pada Balita di Kabupaten Purwakarta.
Arifin YN. (2014). Hubungan Antara Karakteristik Keluarga Dan Konsumsi Pangan Dengan Status Gizi Dan Prestasi Belajar Anak Sekolah Dasar Stunting Dan Normal. Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.
Asiyah S, Suwoyo, & M. (2010). Karakteristik bayi berat lahir rendah sampai tribulan II Tahun 2009 di Kota Kediri. Kesehatan Suara Forikes, 1 (3), 210–222.
Astuti, Sri., dkk. (2017). Asuhan Ibu Dalam Masa Kehamilan. Jakarta: Erlangga. Atmatsier, S. (2011). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Auliana, R. (2011). Gizi Seimbang dan Makanan Sehat untuk Anak Usia Dini. Aziz Kemal. (2010). Etika Profesi dalam Dunia Bisnis dan Teknologi Informasi.
Jakarta: Pembelajar Presindo.
Azriful et al. (2018). Determinan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Kelurahan Rangas Kecamatan Banggae Kabupaten Majene. Al-Sihah : Public Health Science Journal, 192–203.
Batubara JRL, Tjahjono HA, A. (2017). Panduan Praktek Klinis Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia. Badan Penerbit IDAI.
Candra, A. (2011). Hubungan Underlying Factors Dengan Kejadian Stunting pada Anak 1-2 Th. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
Kabupaten Halmahera Utara, 3 (1).
Kemenkes RI. (2014). Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kemenkes RI.
Kemenkes RI. (2016). Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak.
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Status Gizi Anak Balita. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Mardani, Wetasin, & Suwanwaiphatthana. (2015). Faktor Prediksi yang Mempengaruhi Terjadinya Stunting pada Anak Usia di Bawah Lima Tahun, 11(1), 1–7.
Masturoh, I., & Nauri. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan (I). Jakarta: Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Mentari, S., & Agus Hermansyah. (2018). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Stunting Anak Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja UPK Puskesmas Siantan Hulu. Pontianak Nutrition Jurnal, 1(1), 1–5.
Tiwari, R., Ausman, L. M., Argho, K. E. (2014). Determinants of stunting and severe stunting among under-fives. Evidence from Nepal Demographic and Health Survey. BMC Pediatrics, 239.
Warsini, K. T. et al. (2016). Riwayat KEK dan anemia pada ibu hamil tidak berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Sedayu , Bantul , Yogyakarta, (44).
Warta Kesmas. (2017). Gizi, Investasi Masa Depan Bangsa. Kemenkes. Warta Kesmas. (2019). Gizi Seimbang, Prestasi Gemilang. Kemenkes.

(Print)
(Online)


